简体中文
繁體中文
English
Pусский
日本語
ภาษาไทย
Tiếng Việt
Bahasa Indonesia
Español
हिन्दी
Filippiiniläinen
Français
Deutsch
Português
Türkçe
한국어
العربية
Ikhtisar:Perjalanan hidup dan kesuksesan seseorang dalam mendapat harta tidak pernah seorang pun akan mengetahuinya. Begitu juga yang terjadi pada investor saham yang disebut-sebut sebagai Warren Buffet-nya Indonesia, Lo Kheng Hong.
Perjalanan hidup dan kesuksesan seseorang dalam mendapat harta tidak pernah seorang pun akan mengetahuinya. Begitu juga yang terjadi pada investor saham yang disebut-sebut sebagai Warren Buffet-nya Indonesia, Lo Kheng Hong.
Bagaimana tidak, jauh sebelum meraih suksesnya saat ini, pria yang orang tuanya pernah bekerja sebagai pemecah buah kelapa di Kalimantan Barat ini pernah mengalami jalan hidup berliku akibat keterbatasan penghasilan keluarga.
Termasuk saat bersekolah. Dikutip dari berbagai sumber, karena keterbatasan penghasilan orang tua, ia tidak bisa ikut study tour terakhir yang diselenggarakan SMA-nya ke Candi Borobudur. Memang, ongkosnya cuma Rp50 ribu. Tapi saat itu, uang Rp50 ribu merupakan jumlah yang besar.
Perjalanan hidup dan kesuksesan seseorang dalam mendapat harta tidak pernah seorang pun akan mengetahuinya. Begitu juga yang terjadi pada investor saham yang disebut-sebut sebagai Warren Buffet-nya Indonesia, Lo Kheng Hong.
Bagaimana tidak, jauh sebelum meraih suksesnya saat ini, pria yang orang tuanya pernah bekerja sebagai pemecah buah kelapa di Kalimantan Barat ini pernah mengalami jalan hidup berliku akibat keterbatasan penghasilan keluarga.
Termasuk saat bersekolah. Dikutip dari berbagai sumber, karena keterbatasan penghasilan orang tua, ia tidak bisa ikut study tour terakhir yang diselenggarakan SMA-nya ke Candi Borobudur. Memang, ongkosnya cuma Rp50 ribu. Tapi saat itu, uang Rp50 ribu merupakan jumlah yang besar.
Pasalnya, selama 11 tahun mengabdi, kenaikan pangkat yang selalu diidamkan oleh setiap karyawan tak pernah ia dapat. Ia tetap jadi pegawai tata usaha yang gajinya hanya naik dari Rp20.700 pada awal bekerja jadi Rp350 ribu setelah 11 tahun ia mengabdi.
Penghasilannya mulai menanjak naik ketika seorang nasabahnya asal Surabaya mengajak Lo bekerja di bank yang baru ia buka. Di tempat kerja yang baru itu, gajinya melonjak jadi Rp1,05 juta
Berselang 1 tahun kemudian, pangkat naik jadi kepala cabang. Kenaikan pangkat mengubah hidupnya.
Gaji kecil yang selama ini selalu mewarnai hari-harinya, menjadi tinggal kenangan. Setelah naik pangkat menjadi kepala cabang, gaji dilipatgandakan.
Dari situlah hidupnya mulai berubah besar. Gaji yang ia terima usai menjadi kepala cabang tidak pernah ia belanjakan.
Ia selalu gunakan gaji itu untuk belanja saham. Dan 30 tahun setelah kebiasaan itu ia lakukan, 'ternak' uangnya di saham semakin membesar.
Keberhasilan itu mengubah haluan hidupnya. Pada 1996, ia memutuskan untuk berhenti kerja dan fokus menjadi investor saham.
Ia melihat potensi harta karun sangat besar di pasar modal yang bisa membawanya menjadi orang kaya. Itu ia lihat berdasarkan potensi dana masyarakat yang berputar di sektor pasar modal.
Saat bekerja di bank, ia pernah berfikir uang masyarakat banyak berputar di bank. Tapi, berdasarkan data yang dimilikinya pada 2019, dana masyarakat di bank hanya sekitar Rp6.077 triliun.
Jumlah itu jauh lebih kecil dibandingkan di pasar modal yang sudah tembus Rp6.518 triliun
“Harta karun terbesar di dunia adanya di pasar modal, ada uang besar di pasar modal. Kalau mau jadi orang kaya pasar modal lah tempatnya,” katanya.
Setelah keputusan itu diambil, hampir setiap hari kehidupannya ia manfaatkan untuk duduk di taman dekat rumah berisi kamboja dan pohon mangga untuk melakukan tiga hal yang ia sebut sebagai RTI, yaitu reading, thinking, dan investing.
Ia mencermati laporan keuangan perusahaan dan data statistik pasar modal dari empat koran langganannya untuk melihat peluang investasi saham yang ada.
Setelah itu, ia mulai mengatur strategi agar investasi sahamnya menguntungkan. Pertama, membeli saham yang tata kelola atau manajemen perusahaannya baik.
Kedua, membeli saham yang bidang usaha perusahaannya bagus dan labanya besar karena itu bisa menjadi mesin pencetak uang yang handal. Ketiga, membeli saham yang kinerjanya terus bertumbuh.
Keempat, membeli saham yang valuasinya murah.
Karena strateginya itu, Lo Kheng Hong sering untung besar. Salah satunya, ketika ia membeli saham PT United Tractors Tbk (UNTR) dengan harga Rp250 perak pada 1998 lalu.
Pada 2004 atau setelah 6 tahun, harga saham UNTR melesat jadi Rp15 ribu. Ia meraup untung 5.900 persen dalam 6 tahun.
Untung besar juga ia dapat saat membeli saham INKP. Saat itu ia membelinya dengan harga Rp1.000 per saham. Setelah 1,5 tahun, harga saham melonjak pada harga-rata-rata Rp10 ribu per saham. Ia meraup untung sampai dengan 900 persen.
Karena kepiawaiannya itu, hartanya terus bertambah. Pada 2012 misalnya, aset sahamnya disebut-sebut tembus Rp2,5 triliun.
Takut Pegang Dolar
Meski gemar berinvestasi, Lo Kheng Hong sampai saat ini masih menganggap saham masih menjadi yang terbaik. Instrumen lain tak ia lirik dengan beberapa pertimbangan.
Untuk investasi dalam bentuk tabungan misalnya, menurutnya, itu hanya akan membuat dirinya miskin pelan-pelan. Pasalnya return atau imbal hasil yang didapat tidak seberapa.
Hal sama juga terjadi pada obligasi, emas dan dolar. Untuk obligasi ia memandang imbal hasil yang diberikan juga kecil. Tak hanya itu, uang investasi juga akan dikunci selama beberapa tahun.
Untuk emas, ia memandang investasinya lebih mahal dari saham. Sementara dolar AS, menurutnya investasi dalam bentuk tersebut penuh dengan 'doa yang buruk'.
“Meski rupiah terus terdepresiasi sejak jaman kemerdekaan, saya tak berani beli dolar karena biasanya orang yang menyimpannya selalu berharap yang buruk bakal terjadi dan bahkan cenderung berharap rusuh supaya rupiah melemah dan dia dapat untung. Beda dengan saham karena yang pegang pasti harapannya selalu baik kondisinya,” katanya.
Tetap Sederhana
Lo Kheng Hong memang sudah memanen hasil investasinya dan kini punya harta triliunan. Namun, gaya hidup Lo Kheng Hong tetap sederhana. Itu bisa dilihat dari masalah kendaraan.
Dengan harta triliunan, ia sebenarnya bisa membeli tunggangan mewah. Namun, ia tetap saja sederhana dengan setia menaiki mobil merek Volvo yang sudah dimilikinya lebih dari 10 tahun lalu.
Dalam pandangannya, barang seperti mobil mewah tidak harus dibeli karena kian hari harganya pasti akan menyusut. Hal itu tentunya tidak sesuai dengan pemahamannya sebagai seorang investor.
Meski sederhana, ia juga tak lantas melupakan kebahagiaan hidupnya. Dengan hasil investasinya, ia sering berkeliling dunia. Setidaknya 2 kali dalam setahun ia jalan-jalan ke luar negeri.
Disclaimer:
Pandangan dalam artikel ini hanya mewakili pandangan pribadi penulis dan bukan merupakan saran investasi untuk platform ini. Platform ini tidak menjamin keakuratan, kelengkapan dan ketepatan waktu informasi artikel, juga tidak bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh penggunaan atau kepercayaan informasi artikel.